Showing posts with label Israelologi. Show all posts
Showing posts with label Israelologi. Show all posts

31 July 2013

Asal Usul Nama Palestina


Sejak kekalahan Israel dalam pemberontakan mereka yang ketiga melawan Kekaisaran Roma pada 135 M, tanah Israel memiliki nama alias yang kita kenal sebagai Palestina. Nama ini sudah menjadi nama yang sedemikian terkenal baik dalam sejarah umum dan Alkitab. Kaisar Roma pada saat itu, Hadrian, dengan asumsi karena kebenciannya terhadap bangsa Israel, dengan sengaja menggantikan nama wilayah tempat tinggal bangsa Israel menjadi Palestina yang dimaksud sebagai penghinaan bagi orang Israel. Hadrian mengetahui bahwa musuh Israel yang tinggal dalam wilayah yang sama adalah bangsa Filistin dan nama Palestina memiliki asal usul dari kata Filistin.
 
     Orang “Palestina” masa kini, terutama mereka yang tinggal di daerah Gaza, memegang paham di atas sebagai dasar utama bahwa mereka berhak tinggal di daerah tersebut dan mengaku bahwa mereka adalah keturunan bangsa Filistin, sama seperti pengakuan Israel yang merujuk pada sejarah Kitab Suci. Hal menarik dari pengakuan tersebut adalah fakta bahwa bangsa Filistin telah punah 3.000 tahun yang lalu dan telah berbaur dengan bangsa lain di wilayah sekitar mereka.

Ketika nama Palestina merujuk pada Israel
Dalam artikel karya David Jacobson “When Palestine Meant Israel,” (Biblical Archaeology Review, Mei/Juni 2001. Vol. 27, No. 3, hlm. 42–47), Jacobson mengangkat beberapa wawasan yang patut diperhatikan dalam pembahasan asal usul nama Palestina. Dalam artikel tersebut ia mengakui bahwa “ada kemiripan pengucapan antara kata Palaistine dan Peleshet [kata Ibrani untuk ‘tanah Filistin’].

     Lebih lanjut, ia menunjuk pada terjemahan Septuaginta (LXX). Kita menemukan sebuah transliterasi bahasa Ibrani yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani sebagai Philistieim. Jadi, pertanyaan penting yang perlu dilontarkan adalah bagaimana atau mengapa istilah Palestina menjadi referensi umum bagi tanah Israel (‘Eretz Yisrael). Jawabannya menarik untuk disimak dan memiliki implikasi yang menarik pula.

     Asal mula hal ini dapat ditemukan dalam kisah yang tercatat dalam Kejadian 32:22–32 ketika Yakub bergelut dengan “seorang laki-laki” (atau malaikat). Setelah peristiwa tersebut, Allah memberi Yakub nama baru, Israel. Dalam ayat 25 kita membaca, Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.”

      Kita lalu membaca ayat 28, Lalu kata orang itu: ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.’”

      Pada masing-masing ayat, terdapat perbedaan kata untuk menjelaskan sebuah pergumulan. Dalam ayat 25 kata gulat (Ibr. ‘abaq) hanya digunakan dalam pergulatan yang terjadi antara Yakub dan malaikat Allah. Dalam ayat 28, kata bergumul berasal dari kata sarita, yang memiliki akar dari kata sarah, yang berarti ‘berpuas diri’. Nama Israel berasal dari dua kata gabungan yaitu sarita-el, atau Yisra’el (Israel). Sekali lagi, kata Ibraninya hanya merujuk pada perjumpaan Yakub dengan si malaikat (lihat Hos. 12:4). Penekanannya adalah bergumul atau bergulat dengan Allah. 

      Dalam ayat 25, kata Yunani dalam LXX untuk “gulat” adalah epalaien. Bahasa Yunani bagi pegulat adalah palaistes. Kata ini pun erat kaitannya dengan kata Palaistine

      Setelah Jacobson melakukan observasi ini, ia berkata, “Kemiripan yang ada antara kata pegulat (palaistes) dan kata Palaistine—memiliki tujuh huruf yang sama berurutan, termasuk sebuah diftong—menjadi bukti kuat keduanya berkaitan.” Ia melanjutkan:

     Kaisar Hadrian secara resmi menggantikan nama Yudea menjadi Syria Palaestina setelah pasukannya menghancurkan Pemberontakan Bar-Kokhba (pemberontakan Yahudi kali kedua) pada 135 M. Hal ini secara umum dipandang sebagai sebuah gerakan untuk secara sengaja menghilangkan hubungan antara bangsa Yahudi dan tanah tempat tinggal mereka. Akan tetapi, para pujangga atau penyair Yahudi seperti Philo dan Josephus, sebelum pasukan Roma datang untuk mematahkan pemberontakan, menggunakan istilah Palestina bagi tanah Israel dalam karya-karya mereka dalam bahasa Yunani, dan itu berarti menggagas bahwa tafsiran sejarah di atas kurang tepat (Hadrian mengubah nama tanah Israel atas dasar benci). Hadrian mengambil nama Syria Palaestina dengan tepat bisa ditafsirkan sebagai sebuah rasionalisasi nama tersebut bagi propinsi baru dalam pemerintahan Roma, sesuai dengan wilayahnya yang jauh lebih besar ketimbang wilayah Yudea secara geografis. Syria Palaestina memiliki sejarah turun-temurun yang sudah lama erat hubungannya dengan wilayah Israel yang jauh lebih luas dari yang kita lihat kini. 

Kesimpulan
Ada dua hal yang dapat kita simpulkan. 

1. Alasan di atas tidak mendukung mitos yang sudah sedemikian banyak tersebar bahwa kata Palestina berasal dari kata Filistin. 

2. Sehubungan dengan alasan pertama, orang Arab Palestina berarti sedang mengakui bahwa mereka adalah keturunan dari Yakub dan benar-benar orang Israel, ketimbang orang Arab (ironis, karena jika Anda mengaku sebagai orang Arab, Anda pasti berasal-usul dari Arabia). Ini berarti Arab Palestina juga mitos. Lebih lagi, istilah Syria Palaestinia hampir mencakup seluruh wilayah yang sudah dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya (lihat Kej. 15:18–21).

      Sebelum 1948, Mandat Inggris semakin membingungkan dunia dengan dua sebutan Palestina–Palestina Yahudi and Palestina Arab. 

       Palestina Yahudi adalah wilayah tak seberapa ketimbang Palestina Arab di mana saat itu wilayah di dalamnya termasuk negara Yordania yang kita kenal kini. Kini kita mungkin mengenal Israeli Philharmonic Orchestra. Banyak orang masa kini tidak tahu bahwa dulu ada kelompok orkestra bernama the Palestine Symphonic Orchestra. Sama halnya, sebelum terbitnya The Jerusalem Post, ada surat kabar Palestine Post. Lebih ironis lagi, negara Siria waktu itu menolak untuk menyebut wilayah tersebut dengan kata Palestina karena terdengar “terlalu Yahudi.” 

Gerakan Palestina masa kini
Jadi, siapakah orang-orang yang mengaku sebagai orang Palestina yang acap kali kita dengar, baca, atau tonton di media? 300–400 tahun yang lalu, ketika bangsa Israel tercerai berai (diaspora) orang-orang Arab yang berasal dari Arabia menghuni daerah dan wilayah Palestina tersebut. Pada 1948, sekitar 750,000 orang Arab meninggalkan rumah mereka yang ada di Israel akibat invasi bangsa-bangsa Arab (Mesir, Siria, Yordania, Irak, dll.) setelah negara Israel menyatakan diri merdeka. Mereka meninggalkan Israel karena tiga alasan: 

1. Mereka diimbau oleh saudara-saudara Arab mereka untuk menyelamatkan diri jika para pasukan Arab datang dan menyerbu Israel.
2. Kaum Arab intelektual dan pebisnis hijrah ke Eropa and Amerika karena keyakinan peperangan ini akan merugikan mereka jika mereka bertahan;
3. Orang Arab yang bertahan dan terbukti mengancam kedaulatan Israel maupun negara Arab sekitar Israel akan diusir dari wilayah tersebut dan rumah-rumah mereka disita. 

      Orang Arab yang hijrah ke negara-negara Arab disekitar Israel ternyata diperlakukan dengan tidak manusiawi, dianggap sebagai warga kelas tiga, bahkan dicap sebagai pengungsi. Selama bertahun-tahun mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan di tengah-tengah saudara mereka sendiri. Orang Arab yang dulu tinggal di Israel begitu malang, sangat direndahkan di negara-negara Arab lainnya ketika mereka datang untuk mencari rumah yang baru. Ironisnya, mereka akan selalu dihormati oleh negara-negara Arab ketika mereka keluar dari negara-negara tersebut, menyatakan perang terhadap Israel, dan mati sebagai martir atau syahid. Mereka adalah boneka dari kepentingan negara-negara Arab atas kebencian mereka terhadap Israel.

     Istilah “Palestina” yang kita dengan masa kini mulai terdengar pada masa Perang Enam Hari pada 1967. Tiga tahun sebelum perang tersebut, Palestinian Liberation Organization (PLO) dibentuk untuk membebaskan “Palestina,” yang saat itu Israel dan Yordania termasuk dalam wilayahnya. Arafat memimpin pasukan Palestina Yordan dalam sebuah revolusi melawan pemerintahan Yordan. Saat ia kalah, ia membawa PLO-nya ke Lebanon selatan dan akhirnya pindah (atas saran negara-negara Arab) ke Israel pada 1980an.


12 November 2012

10 Nubuat yang Digenapi pada 1948


10 nubuat Alkitab yang digenapi pada 1948 ketika Israel menjadi bangsa yang bersatu dan merdeka untuk kedua kalinya dalam sejarah.

1. Keturunan Yakub akan kembali mengambil kuasa atas Israel—Amos 9:14–15
Dalam Amos 9:14–15, sang nabi berkata akan muncul waktu ketika orang-orang Israel yang berada di pembuangan kembali berkuasa atas tanah air mereka dan ‘tidak akan dicabut lagi’ dari tanah air tersebut. Amos hidup kira-kira 2.700 tahun yang lalu, pada masa bangsa Israel dipaksa untuk dibuang dari rumah mereka oleh kerajaan-kerajaan asing. Walaupun cukup lama merasakan pembuangan, banyak orang Yahudi kembali pulang dan mengklaim kembali kedaulatan atas satu bagian kecil dari tanah air mereka. Pernyataan kemerdekaan ini pada 1948 menimbulkan peperangan dengan negara-negara tetangganya, yang menolak kehadiran bangsa Israel. Pada 15 Mei, 1948, hari ketika pasukan dari negara-negara sekitar mulai menyerang Israel, Azzam Pasha, Sekretaris Jenderal Liga Arab, mengatakan, “Ini merupakan perang yang akan membasmi dan menghancurkan seperti pembantaian yang dilakukan orang Mongolia dan Perang Salib.” Kutipan serupa sering disampaikan oleh orang lain selama perang 1948-49 serta dua perang besar yang mengikutinya. Terlepas dari bagian wilayahnya yang kecil, Israel mampu bertahan menghadapi serangan yang bertubi-tubi, mencegah bangsa tersebut untuk diusir kembali seperti masa-masa yang lalu.
“Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya. Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka," firman TUHAN, Allahmu.”
2. Israel akan dihidupkan kembali—Yehezkiel 37:10–14
Dalam Yehezkiel 27:10–14, sang nabi menerima penglihatan di mana Israel digambarkan sebagai tulang-belulang yang berserakan. Dalam penglihatan ini, Allah memberi tahu Yehezkiel bahwa tulang-tulang itu akan dihidupkan kembali. Seperti halnya Yehezkiel telah menubuatkan hal ini 2.600 tahun yang lalu, orang Yahudi kembali ke tanah air mereka dan benar-benar mendapatkan kembali kehidupan mereka. Israel kembali menciptakan kedaulatan sebagai sebuah negara pada 1948, tiga tahun setelah akhir dari pembantaian massal yang dilancarkan rezim Nazi, yang berhasil membasmi sepertiga populasi orang Yahudi diseluruh dunia.
Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar. Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN."
3. Yesaya berbicara tentang Israel yang dilahirkan kembali dalam satu hari—Yesaya 66:7–8
Dalam ayat ini, sang nabi melihat kelahiran kembali Israel pada 1948. Yesaya menjelaskan seorang perempuan yang sudah melahirkan sebelum merasakan kesakitan dan berbicara tentang suatu negeri yang dilahirkan dalam satu hari. Hal ini dengan tepat menjelaskan peristiwa yang terjadi pada 14 Mei 1948—orang Yahudi mendeklarasi kemerdekaan Israel sebagai bangsa yang bersatu dan berdaulat untuk pertama kalinya sejak 2.900 tahun yang lalu.
Pada hari yang sama, Amerika Serikat mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengakui kedaulatan Israel. Dan, beberapa jam sebelumnya, sebuah perjanjian PBB sudah berakhir, mengakhiri kuasa Inggris atas tanah Palestina. Selang 24 jam, kuasa militer asing atas tanah Israel dibubarkan, Israel memproklamasikan kemerdekaan, dan kemerdekaan tersebut diakui oleh bangsa-bangsa lain. Israel modern secara literal lahir dalam satu hari.
Yesaya mengatakan kelahiran tersebut akan terjadi sebelum munculnya kesakitan saat melahirkan. Sebuah gerakan yang disebut Zionisme pada 1800an memberi dukungan bagi semua orang Yahudi untuk kembali pulang ke Israel, yang pada waktu itu disebut Palestina. Selang beberapa jam proklamasi kemerdekaan 1948, Israel diserang oleh negara-negara tetangga antara lain, Mesir, Yordania, Lebanon, Irak, dan Arab Saudi.
Ketika membaca Yesaya 66:7–8, ingatlah juga bahwa status Israel sebagai negara berdaulat didirkan dan mendapat pengakuan hanya dalam satu hari. Negara ini muncul dari satu gerakan Zionisme (kerinduan untuk pulang ke Sion). Menariknya proklamasi kemerdekaan bukanlah hasil dari sebuah peperangan tetapi justru menimbulkan peperangan.
“Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki. Siapakah yang telah mendengar hal yang seperti itu, siapakah yang telah melihat hal yang demikian? Masakan suatu negeri diperanakkan dalam satu hari, atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali? Namun baru saja menggeliat sakit, Sion sudah melahirkan anak-anaknya.”
4. Israel akan kembali dilahirkan sebagai bangsa yang bersatu—Yehezkiel 37:21–22
Dalam ayat ini, sang nabi berkata Allah akan suatu hari membawa pulang bangsa Israel sebagai bangsa yang bersatu. Hal ini bisa jadi mengagetkan Yehezkiel. Ia hidup kira-kira 2.600 tahun yang lalu. Pada waktu itu, bangsa Israel sudah terbagi menjadi dua kerajaan yang berbeda. Dan, kedua kerajaan telah dijajah oleh pihak asing, yang memaksa banyak orang Israel, termasuk Yehezkiel sendiri untuk meninggalkan Israel. Akan tetapi, ketika orang Yahudi menyatakan kedaulatan pada 1948, mereka melakukan hal itu sebagai bangsa yang bersatu, menciptakan Israel yang kembali bersatu.
katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi menjadi dua bangsa dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan.
5. Israel yang kedua akan jauh lebih impresif daripada yang pertama—Yeremia 16:1415
Dalam ayat ini, sang nabi mengatakan Israel yang kedua akan jauh lebih mantap daripada yang pertama. Dalam banyak hal memang demikian. Pertama kali Israel didirikan sebagai sebuah bangsa adalah ketika Musa mengantar keturunan Yakub ini (masa kini dianggap sebagai orang Yahudi) keluar dari Mesir. Kemudian mereka berkuasa atas tanah Kanaan dan mendirikan Israel selama kira-kira 3.400 tahun yang lalu. Akan tetapi, pendirian Israel yang kedua kali terjadi setelah orang Yahudi kembali bersatu, setelah mereka berserakan diseluruh penjuru dunia selama beberapa ribu tahun. Kali kedua ini, mereka harus kembali pulang dari daerah-daerah yang amat jauh seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Afrika Selatan, dll.
Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka.
6. Prediksi waktu kelahiran kembali Israel oleh Yehezkiel—Yehezkiel 4:3–6
Dalam Yehezkiel 4:3–6, sang nabi berkata bahwa orang Yahudi, yang telah kehilangan hak tanah mereka, akan dihukum selama 430 tahun. Nubuat ini, menurut pakar Alkitab Grant Jeffrey, menjelaskan kelahiran Israel pada 1948. Berikut ringkasan teori milik Jeffrey:
  1. Yehezkiel berkata orang Yahudi akan dihukum selama 430 tahun karena mereka tidak setia terhadap Allah. Sebagai bagian dari penghukuman mereka, bangsa Yahudi kehilangan hak milik tanah air mereka dan diserahkan pada bangsa Babel. Banyak orang Yahudi dibuang ke Babel.
  2. Babel kemudian dijajah oleh Koresh (Media-Persia) pada 539 sM. Koresh mengizinkan orang Yahudi untuk meninggalkan Babel dan kembali ke tanah mereka sendiri. Akan tetapi, hanya segelintir orang yang mengindahkan perintah Koresh. Titah raja ini diberlakukan kira-kira tahun 536 sM, 70 tahun setelah Yehuda takluk pada Babel.
  3. Oleh karena sebagian besar orang Yahudi di pembuangan memutuskan untuk tinggal di Babel, tidak kembali pulang ke tanah mereka sendiri, sisa dari 360 tahun penghukuman mereka dikalikan 7. Alasannya dijelaskan dalam Kitab Imamat (26:18; 26:21; 26:24; dan 26:28). Dalam kitab itu, dikatakan jika umat Tuhan tidak bertobat di tengah-tengah penderitaan mereka, hukuman dikalikan tujuh kali. Dan, dengan bertahan di Babel, hal ini menunjukkan banyak orang Yahudi yang menolak untuk bertobat.
  4. Jadi, jika Anda mengambil 360 tahun sisa waktu penghukuman dan dikalikan 7, Anda mendapatkan 2,520 tahun. Akan tetapi, Jeffrey mengemukakan tahun tersebut berdasarkan penghitungan kalender lunar (setahun—360 hari). Jika tahun itu disesuaikan dengan kalender penghitungan solar masa kini, jumlahnya adalah 2,484 tahun.
  5. Ternyata, secara tepat ada 2,484 tahun dari 536 sM sampai 1948 M, tahun lahirnya negara Israel.
(Dalam ayat Alkitab ini, Yehezkiel di minta Allah untuk secara simbolis melakukan 430 tahun penghukuman tersebut).
Lalu ambillah sebidang besi dan dirikanlah itu di antaramu dengan kota itu menjadi dinding besi, kemudian tujukanlah wajahmu ke arah kota itu, sehingga kota itu dalam keadaan terkepung, dan engkaulah yang mengepung dia. Inilah menjadi lambang bagi kaum Israel. Berbaringlah engkau pada sisi kirimu dan Aku akan menanggungkan hukuman kaum Israel atasmu. Berapa hari engkau berbaring demikian, selama itulah engkau menanggung hukuman mereka Beginilah Aku tentukan bagimu: Berapa tahun hukuman kaum Israel, sekian harilah engkau menanggung hukuman mereka, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari. Kalau engkau sudah mengakhiri waktu ini, berbaringlah engkau untuk kedua kalinya, tetapi pada sisi kananmu dan tanggunglah hukuman kaum Yehuda empat puluh hari lamanya; Aku menentukan bagimu satu hari untuk satu tahun.
7. Bangsa Israel akan kembali pulang ke “tanahnya”—Yehezkiel 34:13
Dalam ayat ini, sang nabi mengatakan Allah akan mengumpulkan bangsa Yahudi dari segala penjuru dunia dan mengantar mereka kembali untuk memasuki “tanahnya”. Setelah beberapa abad dalam perantauan, beribu-ribu orang Yahudi pulang ke tanah mereka pada awal 1800an. Akan tetapi, jutaan orang kembali ke Israel setelah proklamasi kemerdekaan 1948. Dengan kata lain, jutaan orang Yahudi pulang ke tanah air mereka yang benar-benar menjadi “tanahnya” dalam pengertian kini sudah menjadi negara yang berdaulat.
Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu.
8. Allah yang akan menjaga bangsa Israel—Yeremia 31:10
Dalam ayat ini, sang nabi berkata Allah akan suatu hari mengumpulkan kembali orang Yahudi dan menjaga mereka bagai seorang gembala. Terserah keyakinan Anda, tetapi terdapat bukti Allah telah menjaga atas bangsa Israel yang kembali didirikan. Beberapa jam setelah Israel menyatakan kemerdekaan pada 1948, negara-negara disekitarnya mulai menyerang mereka. Akan tetapi Israel yang kecil dan mungil bertahan melalui peperangan tersebut dan mampu menerima tanah tambahan, memperbesar ukuran Israel sebesar 50 persen. Israel juga bertahan terhadap dua perang besar belakangan.
Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya!
9. Pasukan Israel akan jauh lebih kuat—Imamat 26:3, 7–8
Dalam ayat-ayat ini, Alkitab berkata bahwa pasukan Israel akan memiliki kuasa supernatural untuk bertahan semasa hari-hari konflik, jika umat setia terhadap Tuhan. Ayat Alkitab ini mengatakan 5 orang mampu mengusir 100 orang, dan 100 orang mampu mengusri 10.000 orang. Apakah ada bukti atas klaim yang menakjubkan ini? Buktikan sendiri.
Contoh 1: Beberapa jam setelah Israel menyatakan diri merdeka pada 1948, Mesir, Siria, Yordania, Irak, dan Lebanon menyerang Israel. Jumlah populasi dari negara-negara tersebut paling tidak berjumlah 20 juta pada waktu itu. Israel hanya memiliki kurang dari 1 juta orang. Walaupun demikian, orang Yahudi yang memenangkan peperangan dan memperbesar wilayah mereka sebesar 50 persen.
Contoh 2: Semasa Perang 1967, Israel menyerang pangkalan angkatan udara negara-negara tetangga dan berhasil menduduki Yerusalem sejak terakhir kali sekitar 2000 tahun yang lalu. Mereka juga memperoleh daerah-daerah tambahan. Perang ini hanya terjadi selama 6 hari.
Contoh: 3 Pada 6 Oktober 1973, Israel diserang oleh Mesir dan Siria. Sejumlah negara lain ikut dalam penyerangan. Akan tetapi, bangsa Israel mampu menghalau serangan pasukan negara-negara tersebut dan menduduki tanah di luar dari perbatasan Israel.
Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya…Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang. Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang.
10. Berkat orang Israel dipulihkan kembali—Ulangan 30:3–5
Dalam ayat ini, Alkitab mengatakan orang Yahudi bakal diserakkan ke seluruh dunia, dikembalikan ke tanah mereka, dan kehidupan mereka akan dipulihkan kembali. Nubuat ini mulai digenapi pada masa modern semasa akhir 1800 ketika banyak orang Yahudi pulang ke Israel, sejauh China, Amerika Serikat, Rusia, dan Afrika Selatan. Israel menyatakan kemerdekaan pada 1948. Masa kini, Israel adalah salah satu negara paling makmur di dunia. Pada 1999, sebagai contoh, produk domestik bruto Israel jauh mengungguli negara-negara yang ada disekitarnya.
maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun TUHAN, Allahmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau. TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah Tuhan tidak lupa dan tidak mengabaikan bangsa yang telah Dia tetapkan sebagai bangsa pilihan. Ketika ajaran-ajaran Gereja seperti Theologi Pergantian (Replacement Theology) menyatakan Israel sudah tidak berkenan lagi dihadapan Allah, dan seluruh berkat dan janji Tuhan bagi Israel kini dialihkan kepada Gereja (Israel Rohani), paling tidak seputar 1948 dunia dapat melihat Allah tidak lupa dengan umat pilihan-Nya. Allah menggenapi janji-Nya bagi Israel. Gereja yang muncul dalam PB mendapat berkatnya tersendiri sebagai tubuh Kristus, tetapi Gereja itu bukanlah Israel. Israel masih memiliki banyak peran yang harus diemban untuk menyingkapkan kemuliaan Tuhan hingga akhir waktu nanti. Baik Israel dan Gereja mendapat perhatian yang besar dari Tuhan.  

02 November 2012

Zionisme: Makna yang Sebenarnya



Kata “Zionisme” begitu umum masa kini dan hal itu berkat larangan penggunaan kata tersebut oleh PBB dalam kebijakan yang diadakan di General Assembly pada November 10, 1975. Oleh karena itu, muncullah kebingungan ketika kita ingin melihat sifat alami Zionisme itu sendiri dan apakah kita sebagai orang percaya perlu mendukung atau menolaknya.

Fakta yang dapat kita lihat, banyak sekali propaganda yang bangkit untuk menjelaskan Zionisme, dan mayoritas penjelasan tersebut merupakan pemutarbalikkan informasi yang tidak akurat. Bahkan telah mencapai satu titik di mana kata “anti-zionisme” menjadi istilah baru menggantikan “anti-semitisme”.

Beberapa orang bahkan memberi label Zionisme sebagai konspirasi orang Yahudi sedunia yang bertujuan untuk meruntuhkan budaya Dunia Barat agar paham komunisme merajalela. Bagi orang-orang semacam ini, Zionisme dikaitkan erat dengan komunisme. Banyak literatur telah dipublikasikan oleh kelompok-kelompok anti-Semit. Salah satu karya terkenal yang mengaitkan Zionisme dengan komunisme berjudul Protocols of the Elders of Zion. Karya itu sebenarnya merupakan karya palsu yang diracik oleh kelompok anti-Semit. Di dalamnya, karya tersebut menampilkan catatan atau “protokol” para tua-tua Yahudi untuk melancarkan dominasi global. Ternyata, karya itu adalah satu usaha yang sengaja dibuat oleh kaum pendukung Czar untuk membuat opini publik menentang laju paham komunisme di Rusia. Dari hal ini, muncullah pandangan terkenal bahwa komunisme merupakan hasil pemikiran dan konspirasi orang Yahudi. 

Dalam empat kesempatan, ketika bangsa-bangsa Arab gagal mengalahkan Israel melalui peperangan, mereka memulai sebuah kampanye propaganda untuk mengaitkan Zionisme dengan rasisme. Berkat kekuatan sumber minyak Arab untuk menghasut dan mengintimidasi bangsa-bangsa di dunia, para korban rasisme justru kini dituduh sebagai pemicu rasisme itu sendiri. PBB telah berhenti berfungsi sebagai sebuah organisasi yang mencari keadilan dan perdamaian bagi dunia. Sebaliknya, PBB menjadi alat untuk menghancurkan negara-negara yang ada di dunia. Oleh karena PBB melarang keberadaan istilah Zionisme, mereka juga telah melarang bangsa Israel untuk hidup. Mustahil untuk memisahkan Zionisme dengan Israel. Dengan pukulan telak ini, PBB mengesahkan kehancuran bangsa Israel oleh musuh-musuhnya. PBB terjebak masuk dalam perangkap Iblis yang mana, pada masa Kesusahan Besar, akan melancarkan serangan global terhadap Israel (Zak. 12:1–3; 14:1–2). Walaupun kebijakan PBB ini dihapus 17 tahun kemudian, akibat dari kerusakan yang dihasilkannya sudah sedemikian parah.

Jika Zionisme bukanlah konspirasi orang Yahudi sedunia dan bukan satu bentuk rasisme Yahudi, lalu apakah itu?

Akar kata Zionisme adalah “Zion” (Sion). Walaupun kata Sion pada dasarnya merujuk pada bukit yang diatasnya didirikan Bait Allah, kata itu akhirnya menjadi sepadan dengan nama “Yerusalem.” Zionisme hanya berkepentingan dengan Tanah Sion (Israel) dan ibu kotanya, Yerusalem.

Zionisme menggambarkan sebuah kerinduan. Sebuah ekspresi akan kerinduan besar yang dimiliki orang Yahudi baik pada masa lalu dan masa kini atas tanah kelahiran mereka. Zionisme muncul sewaktu bangsa Israel diperbudak di Mesir. Sama halnya juga muncul pada masa pembuangan di Babel. Zionisme muncul juga pada masa dispersi global orang Yahudi,—dimulai setelah penghancuran Yerusalem oleh bangsa Romawi pada 70 M. Ketika orang Yahudi mana pun mengekspresikan sebuah kerinduan untuk pulang ke tanahnya—apa pun alasannya—ia sedang mengekspresikan Zionisme. Orang Yahudi mana pun yang menatap dan mengidentifikasi dirinya dengan Tanah Perjanjian, entah sadar atau tidak; diizinkan atau tidak, adalah seorang Zionist.

Zionisme bukanlah konspirasi atau rasisme. Itu merupakan sebuah ungkapan hati yang disematkan ke dalam setiap hati orang Yahudi oleh Allah sendiri. Zionisme yang belum digenapi berarti orang-orang yang belum berhasil memasuki tanah Israel. Sebaliknya Zionisme yang digenapi adalah orang-orang yang berhasil masuk tanah Israel dan hidup di tanah tersebut.

Akan tetapi, banyak orang percaya ingin mengetahui hal ini: Apakah Zionisme itu alkitabiah? Untuk menjawab ini, semua orang percaya yang menerima Alkitab secara literal dan serius perlu mengatakan “ya.”

Perikop terkenal akan Zionisme yang ditemukan dalam Alkitab adalah Mazmur 137:1–6:

Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!

Kerinduan untuk pulang kembali ke Israel oleh orang-orang Yahudi yang dibuang ke Babel merupakan sebuah ekspresi akan Zionisme. Kata Sion digunakan dua kali sama halnya nama aliasnya, Yerusalem. Sion perlu diingat (ayat 1), serta nyanyian-nyanyiannya (ayat 3). Yerusalem tidak boleh dilupakan (ayat 5), tetapi dijadikan puncak sukacita (ayat 6). Jika dilihat, penulis mazmur ini seorang Zionist yang fanatik.

Zionist lain yang kita kenal tidak lain adalah Nabi Yesaya. Ia menulis demikian dalam Yesaya 62:1 

Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah Zionisme tidak ada hubungan apa pun dengan konspirasi, rasisme, politik, kebencian, persaingan, dll. Zionisme adalah kerinduan terdalam orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka. Anggapan lain dari kata ini keliru.